Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

 


Kali ini aku bakal bahas buku Mark Manson dengan judul sebuah seni untuk bersikap bodo amat. Buku ini merupakan terjemahan dari karya Mark Manson yang sempat populer beberapa tahun terakhir.

Buku ini terdiri dari 9 bab.

Bab pertama membahas tentang kisah Charles Bukowski, seorang penulis yang selalu ditolak oleh penerbit manapun karena tulisannya kasar dan tidak bermolah. Berpuluh-puluh tahun ia tidak berusaha mengubah gaya tulisannya, ia justru suka mabuk, berjudi, mempermainkan wanita, dan hal buruk lainnya. sampai suatu hari ada seorang editor yang tertarik dengan karya Bukowski yang dianggap jujur dan tulus terhadap dirinya sendiri. Berlahan ia pun menjadi sukses. Tetapi sikapnya benar-benar tidak ada yang berubah.

Dari kisah ini, kita diberitahu tentang cara menyikapi kegagalan dan kesulitan yang dihadapi yaitu dengan “bodo amat”, sehingga mampu bertahan dan menerima disaat keadaan buruk menimpa.  Berdasarkan kisah ini maksud bodo amat bukan berarti cuek tetapi nyaman saat menjadi diri sendiri meski berbeda.

Bab kedua membahas tentang kisah seorang pangeran yang memilih hidup dijalanan daripada harus hidup diistana yang penuh kemewahan. Baginya hidup adalah suatu bentuk penderitaan. Dimana orang kaya menderita karena kekayaannya dan orang miskin menderita karena kemiskinannya. Jadi jangan pernah mengharapkan hidup yang bebas dari masalah. Karena itu adalah suatu hal yang mustahil, tetapi berharaplah agar kita diberikan masalah yang baik dan mudah diatasi.

Bab tiga membahas tentang seorang motivator yang tidak menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Ia dikenal sebagai seorang motivatir handal dan hebat yang dicari banyak orang. Dibalik itu semua, Jimmi adalah seorang penipu professional yang amat pandai berbicara. Cara berbicaranya mungkin memikat banyak orang, sehingga orang sulit marah padanya, justru terkagum-kagum. Sampai pada suatu masa Jimmy dijauhi keluarga karena terus menerus meminjam uang. Dari kisahnya kita bisa belajar bahwa banyak orang takut menerima diri mereka yang sedang-sedang saja karena mereka yakin bahwa jika mereka menerimanya, mereka tidak akan pernah mencapai apapun dalam hidup. Padahal diri tentang bagaimana kita adalah hal yang penting. Dengan memahami bahwa kita memang biasa-biasa saja, kita tidak akan merasa tertekan dan cemas dalam bertindak.

Bab empat membahas tentang kisah Hiroo Onoda yang setia terhadap kekaisaran yang sudah hilang. Ia tidak percaya dengan berakhirnya masa perang yang dihadapi. Bahkan saat membaca selebaran tentang berakhirnya perang ia menganggapnya palsu dan meneruskan perjuangan tersebut. Onoda dan pasukannya masih menembaki petani, membakar tanaman mereka, mencuri ternak dan membunuh penduduk lokal. Pemerintah setempat membuat selebaran baru yang mengatakan bahwa perang sudah berakhir. Tapi, onoda juga mengabaikannya lagi. Bahkan sampai pemerintah jepang datang menjemputnya, Onoda masih tidak percaya bahwa perang sudah berakhir. Ia melanjutkan perjuangan yang semu itu. dari kisahnya kitab isa belajar bahwa pengingkaran terhadap emosi negatif menuntun kita untuk mengalami emosi negative yang lebih dalam dan berkepanjangan. Aneka kegagalan memang terkadang membuat kita kesal. Dan itu benar-benar tidak apa-apa. Karena pengalaman buruk yang kita terima dengan baik bisa membantu untuk mencapai hal yang lebih baik lagi. Justru saat menyangkal sisi negatif yang terjadi. Saat itu lah masalah akan semakin bertambah bukan terselesaikan. Jadi kuncinya adalah menerima hal buruk yang terjadi dan menghadapinya.

Bab Lima menceritakan tentang kakak beradik yang terlahir dari keluarga kaya tetapi mendapatkan perlakukan berbeda. William terlahir dengan masalah Kesehatan yang mengancam hidupnya, hingga ia harus menghabiskan waktu dirumah. Ia tidak mempunyai teman dan banyak menghabiskan waktu untuk melukis. Sayangnya tidak ada yang mengakui bakat melukisnya. Sedangkan adiknya yang Bernama Henry terlahir dengna fisik sempurna kini menjadi novelis sukses. Sang ayah mengolok-olok wiliam sebagai anak yang malas dan kurang berbakat, lalu memberinya satu kesempatan terakhir yaitu sekolah di kedokteran Harvard. Namun, William tidak pernah merasa damai menjalaninya. Kemudian ia memutuskan untuk melarikan diri dengan cara ikut ekspedisi antropologi ke hutan hujan amazon. Secara mengejutkan William mampu bertahan dan berhasil Kembali. Sang ayah sangat kecewa dengna William. Lalu William bertekad bahwa ia bertanggungjawab 100% atas segala hal yang terjadi pada hidupnya. jika tidak ada yang membaik, ia akan mengucapkan selamat tinggal pada dunia. Akhirnya? William James menjadi bapak psikologi Amerika yang kita kenal sekarang, karyanya diterjemahkan dalam berbagai Bahasa. Darinya kita belajar bahwa kita memang tidak bisa selalu mengambil kendali terhadap apa pang terjadi pada kita, tapi kita selalu bisa mengendalikan car akita menghadapi segala hal yang menimpa kita. Semua peningkatan yang dialami Willliam muncurl karena adanya kesadaran sederhana yaitu dimana kita dengan sadar peham bahwa hidup kita adalah tanggungjawab setiap individu masing-masing, tak peduli seperti apa kondisi diluar diri kita. Karena Suka atau tidak kita selalu berperan aktif terhadap apa yang terjadi pada diri kita sendiri.

Bab Enam membahas tentang kepastian. Bagi manson tidak ada yang pasti didunia ini. Jadi sebaiknya kita terus berupaya untuk mencari keraguan. Daripada berusaha menjadi benar setiap saat, lebih baik mencaritahu bagaimana kitab isa keliru setiap saat. Kekeliruan membuka kemungkinan adanya perubahan. Sehingga kekeliruan membawa kesempatan untuk tumbuh. Hal ini bukan berarti tidak ada hal-hal pasti akan membuat hidup seseorang kacau.

Bab Tujuh membahas tentang kisah-kisah kegagalan dimulai dari kegagalan yang dialami manson dan pablo. Dari kisah mereka kita belajar bahwa kegagalan adalah hal yang wajar. Belajarlah untuk menahan rasa sakit (183) yang telah anda pilih. Rasakan, nikmati, terima dengan tangan terbuka. Kemudian lakukanlah. (188) Jika kita mengikuti prinsip lakukan sesuatu, kegagalan terasa tidak penting. Ketika standar kesuksesan hanya melakukan sesuatu, kita merasa bebas untuk gagal dan kegagalan itu yang menggerakkan kita kedepan.

Bab delapan membahas tentang sikap kita untuk menolak sesuatu.

Bab Sembilan membahas tentang akhir dari kehidupan. Iya, kita semua akan mati, semuanya. Alasan itu saja seharusnya membuat kita saling mencintai. Tetapi tidak.  Kita diteror, dan digilas oleh hal-hal yang remeh dalam hidup.

 

Semua kisah yang diceritakan manso memang tidak ada barkaitan satu sama lain. Tetapi setiap kisah memiliki pesan yang berarti. Meski banyak kata atau kalimat yang susah dipahami tetapi banyak motivasi yang bisa ditiru.

Buku ini bukannya mau mengajak pembaca untuk bersikap bodoamat, egois atau mementingkan diri sendiri ya. Tetapi penulis ingin menunjukkan bahwa tidak semua hal didunia ini cukup berarti untuk kita pedulikan. Kita cukup peduli saja pada hal sederhana, mendesak dan yang penting bagi diri kita sendiri.

Setidaknya ada 3 seni bodoamat yang diajarkan Manson yaitu

1.                Bodo amat artinya nyaman menjadi diri sendiri

2.               Bodo amat pada kesulitan yang kita hadapi

3.               Bodo amat yang artinya tidak membandingkan standar hidup kita dengan hidup orang lain

Post a Comment for "Review Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat"