Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Buku "Hijrah Jangan jauh-Jauh, Nanti Nyasar"



Halo para pecinta buku kali ini aku bakal bahas buku berjudul “Hijrah jangan jauh-jauh nanti nyasar” karya Kalis Mardiasih. Buku ini berisi 5 bab dengan sekumpulan esai.

Bab 1, Islam dan kebaikan anak-anak berisi 8 esai yang membahas tentang bagaimana agama tumbuh pada jiwa anak-anak yang masih suci. Menceritakan tentang kerinduan penulis dengan masa anak-anaknya saat ia tidak curiga dan mau berteman dengan siapa saja, saat perkelahian dan pertengkaran mudah termaafkan dan tanpa menyimpan dendam. Sedangkan akhir-akhir ini, anak-anak telah pandai menghakimi sesuatu sebagai dosa dan neraka. Kemudian menjelaskan bahwa pada eranya, pengajaran islam sangatlah fleksibel dan mudah sekali diterima. Bagaimana sang guru mengaji menjelaskan secara logis tentang Allah itu Esa dan bagaimana ia melewati masa anak-anak sampai remaja dengan penerimaan Islam yang sangat realistis. Dan ditutup dengan kisah Bintang yang ditinggal orangtuanya bekerja diluar negeri, ia tumbuh menjadi anak yang susah diatasi bahkan menganggap bahwa Pendidikan adalah kedok pemerintah untuk menghancurkan agaMA

Pada bab ini bagian favorit saya adalah bapak dan ingatan masa kecil yang baik. Bagian ini menceritakan tentang penulis yang baru saja pulang menemui bapaknya, lalu ia membanggakan pengetahuan barunya kepada sang bapak yang hanya menjadi guru ngaji tidak berubah-ubah, namun seiring berjalannya waktu ia sadar bahwa sikapnya sangatlah sombong, lalu ia menghampiri bapak bersimpuh dihadapannya dan meminta maaf.

BAB II, ISLAM DAN KEMANUSIAAN. Berisi 7 esai. Banyak factor yang menjadikan seseorang mendadak religious seperti situasi perang, sakit parah, perceraian atau kematian keluarga secara mendadak. Masjid seharusnya menjadi rumah tempat para umat islam yang fungsinya lebih dari bangunan untuk ibadah-ibadah fisik. Pada zaman Nabi Muhammad, masjid menjadi pusat Pendidikan dan informasi untuk persoalan ekonomi dan politik, tempat resolusi konflik dan pengadilan sengketea untuk orang yang berseteru.

Yang paling aku suka bagian ragam hidayah dikampung kang Kandar. Bab ini menceritakan tentang Islam yang sederhana itu sangat mudah diterima oleh Masyarakat. Desa kang Kandar ada pak Kaji Suratman yang selalu berpesan agar warga kampung senantiasa rukun dan saling peduli. Jika ada yang sakit saling berkunjung…… ajaran itu sangat mudah diterima, dilain waktu ada ustazah yang datang menyuruh ibu2 memakai kerudung dengan benar, aurat Perempuan harus dittup seluruhnya sebab jika tidak akan jadi fitnah. Istri kang Kandar yang biasa  memcah kelapa dagangan dipasar memakai setelan kaus, celana dan kain ikat penutup kepala saja, lalu ia iseng mampir ketoko sang ustazah untuk melihat harga gamis dan kerudung ternyata harganya sangat mahal.

BAB III Islam dan Akal Sehat, berisi 6 esai. Dalam islam sholat merupakan tiang agama yang didalamnya terdapat takbir. Takbir yang artinya mahabesar membuat manusia merasa kecil sekecil-kecilnya, sehingga ia  tidak melihat manusia lain sekitarnya lebih rendah karena ia berusaha untuk menjadi hamba yang paling dicintai Allah. Sayangnya takbir yang dijalanan terdengar begitu menyeramkan. Dalam mobilisasi masa aksi politik, takbir diteriakkan untuk memenangkan kekuasaan. Takbir semacam itu bukan takbir yang say acari dalam islam. Ia tak hadir bersama keimanan pada yang Maha Besar, melainkan hadir bersama syahwat setan. Dimana hasratnya penuh dengan keinginan untuk mengalahkan pihak lawan. Seharusnya kita jangan bertakbir jika berniat merundung orang lain.

BAB IV Islam dan Contoh baik. Berisi 7 esai. Pertama cerita tentang gus yahya yang mengajarkan bahwa anak-naka harus berlajar dipesantren bukan untuk menjadi pintar tapi agar mereka menjadi beradab. Lalu ada kisah-kisah lain seperti abah maulana Habibi lutfi bin yahya, gusdur, gus sholah dan lainnya.

Bab V islam dan moderniat berisi 7 esai. Zaman modern memang identic dengan perkembangan teknologinya. Dakwah sudah banyak sekali diberbagaai platfrom medsos. Bahkan ada yang mengaku santri kareana mengikuti akun dakwah. Padahal kita tahu bahwa jutaaan akun anonim terkadang menggiring opini kita kehal yang buruk. Bukan bermaksud menyalahkan secara keseluruhan, boleh saja belajar agama lewat media sosial tetapi tetap harus mempunyai guru agama atau ustad untuk menanyakan sesuatu secara langsung. Jadi kita tidak mudah mengharam-haramkan sesuatu tanpa mengetahui sebab musababnya.

Bagian favorit saya dibab ini adalah soal broadcars haram-haraman yang bikin lebaran ruwet.

Dari buku ini kita bisa belajar bahwa keberagaman itu memang harus dihargai bukan dicaci maki. Dan pentingnya sikap beragama yang ramah, amai dan toleran. Jadi jika memutuskan untuk hijrah dari keburukan menjadi lebih baik lagi maka jangan jauh-jauh atau jangan sampai memnyakiti orang lain.

Sampai jumpa dibuku selanjutnya

Post a Comment for "Review Buku "Hijrah Jangan jauh-Jauh, Nanti Nyasar""