Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Buku Perempuan di Titik Nol


Halo para pecinta buku, kali ini aku bakal bahas buku berjudul Perempuan dititik nol karya Nawal El Saadi. Buku ini menceritakan kisah seorang perempuan bernama Firdaus. Ia adalah seorang tahanan wanita atas kasus pembunuhan.

Firdaus kecil terlahir dari keluarga petani yang miskin. Ia sangat rajin membantu orangtuanya diladang. Ia juga mempunyai teman bermain saat berada diladang. Sayangnya, kedua orangtua Firdaus tidak mengetahui bahwa teman sepermainannya itu melakukan pelecehan seksual terhadap Firdaus.

Ketika dirumah, Firdaus juga mendapatkan perlakuan yang berbeda. Contohnya ketika tidur Firdaus tidur dilantai dan orangtuana dikasur, ketika makan ayahnya selalu menjadi prioritas bahkan saat musim dingin ia selalu kedinginan karena harus mengalah agar ayahnya tetap hangat.

Ketika orangtuanya meninggal, Firdaus diasuh oleh Pamannya di Kairo. Firdaus disekolahkan sampai tingkat menengah. Dengan jasanya itu Firdaus selalu mendapatkan pelecehan seksual dari pamannya dan Firdaus menganggap hal itu wajar karena pamannya telah membiayai hidup dan sekolahnya.

Setelah lulus sekolah, sang paman sudah menikah dan menyatakan tidak sanggup lagi untuk membiayai Firdaus. Kemudian ia mengirim Firdaus untuk menikah dengan lelaki tua yang mempunyai nanah diwajahnya. Firdaus tidak bisa menolak hal itu. Ia pun menikah dengan pria tua yang diperintahkan pamannya. Sayangnya, pria tua itu memperlakukan Firdaus dengan kasar juga. Firdaus akan dipukul jika tidak menurut dan seringkali mendapatkan tatapan penuh intimidasi saat sedang makan dan melakukan hal lain. Bahkan ketika piringnya ada secuil sisa makanan Firdaus akan langsung dimarahi karena telah menbuang-buang makanan.

Beberapa kali Firdaus kembali kerumah pamannya, tetapi sang paman mengantarkan Firdaus kerumah pria tua itu lagi.

Suatu hari, Firdaus sudah tidak sanggup lagi. Ia kemudian kabur ke jalanan tanpa sepengetahuan suami dan pamannya. Ia kabur dari rumah sembari membawa ijasah sekolah menengahnya agar bisa mendapatkan pekerjaan untuk biaya hidup.

Awalnya ia bertemu dengan seorang lelaki baik hati yang merawatnya dengan baik, bahkan ia diberi tempat tidur dan makan yang layak. Tak lama kemudian lelaki itu melakukan pelecehan seksual dan menjadikan Firdaus seorang pelacur. Firdaus kabur lagi dari tempat itu.

Lalu Firdaus bertemu dengan Shafira, wanita yang berhati lembut. Wanita itu ternyata seorang germo. Kali ini Firdaus tidak keberatan menjadi pelacur dengan Shafira yang menjadi germonya. Shafira mengajarkannya agar jangan pernah menghargai tubuhnya dengan murah. Firdaus sudah tidak memikirkan apapun lagi. Ia berkali-kali melayani seorang laki-laki dengan tujuan mendapatkan uang.

Ada satu orang lelaki yang tertarik kepadanya dan meminta izin kepada Shafira untuk bisa menikahi Firdaus. Tetapi saat menawar sang lelaki itu justru melakukan pelecehan seksual terhadap Shafira dan Firdaus mendengar hal itu. Firdaus pun pergi meninggalkan Shafira. Ia pergi jauh tanpa pernah mengerti arah dan tujuan.

Kemanapun ia pergi, Firdaus selalu terjerumus kedunia pelacur dan bertemu dengan seorang germo. Sampai ia menjadi pelacur paling mahal di Kairo. Seringkali ia melayani politisi negara dengan bayaran mahal yang ditetapkan Firdaus. Tanpa sengaja ia bertemu dengan seorang pria bernama Ibrahim yang berhasil membuatnya kembali merasakan jatuh cinta. Ibrahim juga merasakan hal yang sama. Tetapi, Ibrahim menikah dengan seorang putri pejabat. Firdaus merasa sangat kecewa dan sudah tidak pernah percaya lagi kepada laki-laki. Baginya semua laki-laki hanya memiliki nafsu tanpa batas.

Ia kembali bertemu dengan seorang germo yang lebih professional. Germo itu mengancam Firdaus. Dengan beraninya Firdaus membunuh seorang germo itu. Hal inilah yang menjadikan ia masuk penjara dan di vonis hukuman mati.

Firdaus akan dihukum gantung 10 hari lagi. Penjaga sel pernah menawarkan Firdaus untuk melakukan pengajuan agar hukumannya bisa diringankan. Firdaus menolak tawaran itu dengan tegas. Ia memilih hukuman mati gantung daripada harus memohon belas kasihan kepada laki-laki.

“Setiap orang harus mati. Saya lebih suka mati karena kejahatan yang saya lakukan daripada mati untuk salah satu kejahatan yang kau lakukan” Salah satu kutipan dalam novel yang menjadi awal dan akhir dari novel ini.

Novel ini seolah menjadi suara bagi kaum perempuan yang hidup di dunia patriarki, mereka selalu diangap lemah dan disepelekan. Seberapa cerdas dan cekatan seorang perempuan itu, ia tidak pernah dianggap. Hak-hak perempuan yang kurang terjamin, kebebasan yang terkekang dan segala diskriminasi lain yang membatasi lingkup gerak perempuan.

 Sampai jumpa dibuku selanjutnya.

 


 

Post a Comment for "Review Buku Perempuan di Titik Nol"