Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Yang Belum Usai Karya Pijar Psikologi

 

 

“Yang Belum Usai” karya “Tim Pijar Psikologi”, buku ini berisi tentang apa itu luka batin, bagaimana menngidentifikasi luka batin serta menawarkan solusi penyembuhan luka batin itu sendiri.

Buku ini cocok banget buat kalian yang sok kuat dan merasa semuanya baik – baik saja tapi tanpa disadari bisa melukai orang – orang terdekat karena luka batin yang dimiliki belum sembuh, atau yang merasa menyakiti diri sendiri dengan berbagai pikiran dan emosi negative yang terpendam bertahun – tahun dan menganggap itu adalah hal yang wajar.

Buku ini mempunyai empat bagian.

Part I membahas tetang luka batin.

Pernah ngga kalian denger “Waktu yang akan menyembuhkan”.

Nah menurut buku ini, time heals nothing, waktu tidak akan menyembuhkan apapun.

Selama ini, ada konsepsi bahwa luka batin akan sembuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Bahwa pada akhirnya kita mampu memaafkan orang – orang yang telah menyakiti hati kita. Bahwa trauma kita akan hilang. Bahwa kita akan baik – baik saja. Namun, semua itu keliru.

Menyembuhkan luka batin bukanlah pekerjaan pasif. Kita tidak bisa diam dan membiarkan “waktu yang menyembuhakn”. Menyembuhkan luka batin adalah pekerjaan aktif, dan kita harus menyediakan energy, waktu, biaya dan komitmen untuk sembuh dari luka psikologis yang telah kita tumpuk entah sejak kapan.

Dari kecil kita jarang sekali diberitahu tentang luka batin, karena luka batin memang terlalu absurd dan tabu untuk dijelaskan. Kalian ingat ngga, waktu kecil pernah menangis karena kecewa tidak juara kelas, harus pindah sekolah, ditinggalkan teman atau hal – hal lain yang tanpa sengaja membuat kalian nangis. Terus orang tua kalian atau orang dewasa hanya bilang : “udah ya nangisnya”, “udah ah, nanti beli es krim”, atau “jelek ih kalo nangis, yuk jalan – jalan biar ngga nangis lagi”.

Padahal yang kita alami adalah luka batin yang perlu disembuhkan bukan terus menerus dialihkan dengan prasangka akan berbahagia.

Nah luka batin “sepele” yang terus mengendap selama bertahun – tahun sejak kita masih kecil dan lugu bisa memberikan dampak seperti kita merasakan amarah pada orangtua, merasa curiga yang sangat besar, merasa tidak punya teman, atau bahkan merasa selalu diabaikan.

Dalam dunia psikologi ada beberapa istilah luka batin : trauma, primal wound, unfinished business.

Trauma contohnya pada korban bullying, trauma terhadap pernikahan karena menyaksikan orangtua berkelahi atau hal lain yang menyakitkan dan membuat kita menjauhi sesuatu itu

Primal wound ketika kita merasa terasingkan, perasaan seperti tidak diinginkan, merasa tidak dicintai, merasa tidak pantas, merasa kotor, atau merasa menjadi beban orang lain

Unfinished business tentang perasaan yang menghambat kebahagiaan, contoh kasusnya ketika dikelas dicap bodoh oleh seorang guru. Kemudian ia berusaha keras dan berhasil menjadi juara umum. Namun ketika diminta mengikuti lomba atau mendapat beasiswa ia akan menolak. Karena usahanya hanya sebatas ingin menunjukkan pada gurunya bahwa ia mampu dan bisa. Pola ini tanpa sengaja selalu terulang hingga dewasa. Sehingga setiap diberikan kepercayaan lebih, tanggungjawab, naik jabatan ia merasa tidak nyaman dan memilih pergi.

Setelah mengetahui jenis luka batin, buku ini mengajarkan tentang cara mengidentifikasi luka batin melalui :

1.     Sadari pola yang berulang dalam diri

Contohnya apakah kamu selalu mendapatkan pasangan yang memanfaatkan kamu? Apakah kamu dipertemukan dengan orang menyebalkan? Apakah teman kamu toxic? Apakah kamu selalu lari dari masalah yang sama?. Proses itu dapat membantumu menemukan secercah jawaban dari kegundahanmu.

2.    Sadari kalimat yang kamu gunakan saat marah

“Semua pasti salahku, mana bisa kamu paham? Aku capek kita berantem hal sepele gini terus!”. Jika kita berulang kali menggunakan kata yang sama. Bisa jadi hal itulah yang merupakan inti dari luka batin kita. Luka batin kita adalah rasa kecewa tak mampu mengubah sesuatu atau lebih jauh lagi karena kekecewaan pada diri sendiri.

3.    Sadari kalimat yang kamu gunakan saat mengeluh?

4.    Coba deh akui sipaa orang yang paling kamu benci atau palig membuat kamu sakit hati?

Akan ada banyak sekali kemungkinan jawaban yang muncul. Atasi hal – hal itu dengan renungkan pola – pola itu. Akui dan tuliskan pengalaman – pengalaman itu dalam sebuah buku. Jujurlah dengan diri sendiri tentang apa yang kamu alami. Jika kamu mampu melakukan itu, aka nada banyak interpretasi baru atas luka batin yang kita miliki.

 

Part II tentang membebaskan masa lalu

Bab ini membahas tentang katarsis atau pelepasan emosi yang terkait dengan kejadian traumatis. Ada banyak hal yang mungkin menghambat seseorang mengungkapkan emosi negatifnya. Entah dari egonya sendiri atau memang karena tuntutan situasi. Sebagaimana kita bisa menahan senyum dan tawa sat kita merasa bahagia, emosi negatif juga memiliki porsi sendiri untuk dilepaskan. Proses katarsis setiap orang berbeda –beda bisa dilakukan dengan mendengarkan music, menulis, melukis, menonton film, traveling atau hal positif lain.

Katarsis hanya akan berhasil jika kamu menyadari sepenuhnya emosi yang dirasakan. Bukan sekedar bersenang – senang untuk melupakan kesedihan. Missal kamu memilik proses katarsis dengan traveling ke luar negeri, kamu akan senang dan bahagia disana, tapi , setelah kamu pulang kerumah kamu akan kembali hampa, kosong, sepi, sedih. Karena inti dari katarsis bukan itu, tetapi bagaimana kamu bisa melepaskan semua lapisan topeng yang ada didalam diri kamu sendiri atau bagaimana kamu bisa  menurunkan ego untuk mampu menyelami emosi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan melepaskan emosi itu, kita bisa membersihkan pikiran dan membiarkan pola pikir kita berproses tanpa kekalutan.

 

Part III menyembuhkan luka batin

Part ini mengajarkan kita tentang cara menyembuhkan luka batin yang meliputi tiga hal yaitu self healing, penerimaan diri dan menjaga mental dengan safe care

Kalian pasti sering dengar self healing, sebuah proses pemulihan diri dari luka batin dengan melibatkan kekuatan diri secara penuh, demi mencapai kepribadiaan yang utuh. Perjalanan ini adalah perjalanan sepanjang hidup, tidak ada waktu baku untuk menentukan kapan seseorang pulih. Bisa saja saat seseorang pulih, ada hal lain yang membuatnya tidak nyaman. Ya, hidup memang begitu, maka self healing bukan hanya sekali dilakukan, tapi akan terus kita lalui selama masih hidup. Kita perlu memeluk luka kita dengan hangat sebagai bagian dari diri kita, bukan menolak dan turut memaki luka itu untuk pergi secara paksa. Contohnya kalimatnya “Segala hal yang terjadi dalam hidupku adalah sumber kekuatanku untuk menjalani hidup”. Kita sadar bahwa luka tidak akan pergi, namun ktia sudah mampu menerima luka itu sebagai bagian dari proses hidup. Menerima bukan tidak berbuat apa – apa dan membiarkan luka masih sakit, tapi bagaimana kita mau berproses sehingga ketika luka itu kembali kita sudah merasa normal. Kita menerima bahwa luka tidak hilang dan telah menajdi bagian dalam hidup, tapi sensasi yang membuat kita terluka telah tiada.

Penerimaan diri sendiri bisa kita lihat dari beberapa bentuk :

1.     Ketika kita gagal dan menyadari bahwa kita melakukan kesalahan tapi tidak merasa bahwa diri kita adalah kegagalan.

2.    Menerima apa adanya bentuk tubuh kita sendiri.

3.    Menyadari bahwa kita tidak ahli dibidang A, tapi kita ahli dibidang B. dan tidak memaksakan kehendak.

4.    Tetap tenang saat teringat dengan memori yang menyakitkan.

Ambiillah jarak, duduk tenang, pejamkan mata, Tarik napas dalam – dalam melalui hidung, tahan sebentar lalu keluarkan perlahan. Lakukan berulang – ulang. Menjaga keseimbangan mental dimulai dengan cara seserhana itu.

 

Part IV mencintai diri apa adanya

Kalian pasti sering banget dengar self love first!!

Mencintai diri sendiri itu bukan tentang bagaimana mementingkan diri sendiri diatas kepentingan segalanya atau terfokus hanya pada diri sendiri dan masalah – masalah kita sendiri. Self love lebih luas dari itu.

Orang – orang sering berkata “love yourself first before you love someone” atau “you cant love anyone else until you love yourself”. Jadi konsep self love adalah ketika kita mampu mengisi tangki cinta dalam diri maka mencintai diri mampu membawa kita melihat orang – orang dan makhluk sekitar yang sedang dalam penderitaan dan kekurangan cinta. Self love mengajarkan kita untuk memberikan cinta dan kasih sayang yang sama pada diri kita, seperti ketika seorang teman yang kita sayangi sedang mengalami kegagalan. Hal itulah yang membuat kita akhirnya menumbuhkan empati tidak hanya pada diri sendiri tapi pada orang lain.

Menjadikan diri yang berharga, bahagia dan penuh cinta adalah tanggungjawab diri kita masing- masing, kita tidak berhak menuntut dunia untuk membahagiakan serta memberikan banyak cinta pada diri kita yang hampa.

Maka dari itu, tidak ada salahnya untuk mengambil jeda. Menyadari dan mengamati bagaimana keadaan dalam diri kita. Apakah kita sudah cukup cinta? Apakah kita sudah benar – benar mencintai diri kita? Apakah kita sudah tidak lagi mencari cinta dan pengakuan dari dunia? Apakah kita sudah mengizinkan diri kita untuk merasa menderita lalu menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidup kita? Sudahkah kita benar – benar menyayangi diri kita? Diri yang hampir selalu ada dikala kita susah maupun bahagia, tetapi tidak jarang kita abaikan dan kita kucilkan kehadirannya di kala kegagalan melanda. Sudah saatnya bagi kita untuk membuka mata, hati serta telinga, menyisihkan waktu dan bertanya pada diri kita sendiri.

Apakah kita sudah benar – benar mencintai diri kita? Karena seperti hakikatnya sebuah proses hidup, its always start with you.

Review Buku

Buku ini disampaikan dengan Bahasa yang ringan banget, dan memberikan pengetahuan baru tentang istilah – istilah didunia psikologi. Buku ini ngga bermaksud menduga setiap masa lalu kita adalah luka batin. Ngga, sama sekali. Setiap orang punya kisah dan mental yang berbeda, tapi yang tidak pernah dimiliki rata – rata sama yaitu kesempatan untuk mengolah masa lalu atau menerima masa lalu yang menyakitkan.

Bacalah buku itu dan temukan sendiri bagaimanca cara memulai perjalanan untuk pulih dari luka batin. Jadi, sudah tertaik membaca bukunya belum nih? Karena waktu saja tidak cukup untuk menyembuhkan luka.

Sampai jumpa di buku lainnya!!!.


 



Post a Comment for "Yang Belum Usai Karya Pijar Psikologi"